Saturday, September 7, 2013

Setangkai Padi


Cerita ini tentang kehidupan yang berada di antara pematang sawah berpetak, tumbuhlah diriku, setangkai padi yang hijau diantara rumpun padi yang menghijau. Sebelum aku mulai tumbuh, seseorang menyebarkan benihku, merawatku, mengairiku, dan memberiku segala yang kubutuhkan.

Padi ditanam, ilalang tumbuh. Ilalang ditanam, padi tak tumbuh. Ketika menyebar benih padi, pasti selalu tumbuh rumput ilalang di sela-sela tanaman padi. Tapi ketika kita menyebar benih ilalang, tak mungkin bisa tumbuh padi. Itulah sebabnya saat kita berbuat kebaikan, pasti selalu saja ada kesalahan yang diperbuat, tapi ketika kita berbuat keburukan, kebaikan tidak akan pernah ada. Dan aku pun tumbuh. Aku dan padi-padi yang tumbuh lainnya adalah padi-padi pilihan yang diberikan kesempatan menikmati kehidupan. Dan aku adalah salah satu kebaikan yang orangtuaku ciptakan, dan merupakan titipan Tuhan.

Aku menjadi setangkai padi. Semuanya berharap kelak aku nanti menjadi padi yang berguna, yang bisa menghasilkan beras bermutu dan menjadi nasi berkualitas. Semua berharap dan menyematkan doa-doa mereka disetiap bulir padiku yang mulai berbuah. Begitu pula dengan padi-padi yang lain, mereka berisi doa-doa agar bulirnya manis berisi.

Ketika sudah tiba waktunya. Padi mulai menguning berisi bulir yang bernas. Ibarat ilmu padi, semakin tua semakin berisi, semakin berisi semakin menunduk. Ilmu pengetahuan yang dimiliki padi menjadikan padi menjadi lebih bersikap sopan dan bijak ketika ia memiliki kemampuan tinggi. Tapi tidak dengan diriku, aku masih menghijau tanpa bulir yang berisi. Aku masih dengan kesombonganku berdiri dengan begitu angkuhnya karna merasa lebih tinggi, tapi ketahuilah, bulirku tak berisi. Hingga pada saatnya ketika padi-padi lain mulai dipanen, aku pun mulai menguning dan menunduk, tapi bukan karna berisi. Tapi karna hama dan gulma menggerogoti. Aku semakin terkoyak kesana kemari, semakin menguning menjadi jerami, bulir-bulir padi dari tubuhku tak berisi, menguning menjadi gabah-gabah kering (sekam). Dan akupun mati bersama tumpukan jerami yang lain. Tapi aku berbeda dengan jerami lain. Mereka mati dengan berguna tapi aku mati dengan hina. 


Lihatlah aku terkapar mengering tak berarti, apakah aku bisa tumbuh lagi. Aku berdoa dalam hati, jika aku diberi kesempatan lagi, aku ingin tumbuh menjadi berarti. Meskipun tak ingin dipuji, setidaknya aku ingin orang mengerti bahwa aku juga ingin mengabdi. Langit mendengarkan keluhku, dia turunkan hujan menyirami diriku. Kulihat gabah-gabah keringku (sekam) yang tak berisi tersirami air hujan, dan tumbuhlah lagi diriku ini, menjadi setangkai padi. Meskipun aku bisa tumbuh lagi menjadi setangkai padi, tapi padiku tak sempurna seperti dulu lagi, tapi setidaknya aku diberi kesempatan untuk tumbuh lagi, memberikan bulir padi yang akan menjadi beras dan kelak menjadi nasi.


Aer Enau
Singaradja, September 2013

2 comments:

  1. PADI, semakin berisi semakin merunduk,..

    salam kenal,..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, seharusnya sih seperti itu, tapi awalnya tidak bisa seperti padi yang baik. :D

      salam kenal juga

      Delete

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Terimakasih atas saran dan kritik anda.