Jumat, 14 Oktober 2016

Rasa Sayang Sang Kerang

Ini kisah dari dasar samudra, kisah kerang yang terluka. Seonggok kerang di dasar samudra, merintih meratapi luka di tubuhnya. Lihatlah, cangkangnya berlubang, kerikil masuk menembus dagingnya. Deburan ombak membuat Isak tangisnya mengabur, tapi Ia masih merintih pilu. Air garam lautan masuk menyentuh lukanya, perih ia rasa, tapi Ia masih mencoba bertahan. Mungkin jika aku jadi dia, akan ku maki si kerikil pembuat luka, aku tak akan tahan dengan derita yang harus ditanggungnya.

Selasa, 01 Desember 2015

Sebutir Debu





Aku akan meceritakan kisahku ketika aku menjadi sebutir debu yang terbang di udara. Aku tersesat dalam hiruk pikuk sandiwara, dalam kebisingan kota baru ku ini, aku tetap merasa sepi. Lalu lalang jalanan dan kerumunan orang-orang di seluruh kota tetap membuatku merasa sepi. Di keramaian, diantara canda tawa orang-orang di sekitarku, aku tetap merasa sepi, kosong dan hampa. Ya, aku sebutir debu disudut ruang dan jalanan. Aku selalu merasa aku ini selalu tersisih, aku selalu terabaikan, aku tak terlihat, aku tak tampak. 

Senin, 15 Juni 2015

Si Udang Dungu di Balik Batu


Kisah mengenaskan seekor udang dungu. Mengenaskan karena hidupnya yang serba salah. Si Udang selalu dianggap bodoh oleh banyak orang, dan kenyataannya si udang memang terlalu bodoh untuk berfikir kenapa dia bodoh.Yang ia tahu, meskipun dungu tapi si udang juga punya otak. Kata orang, meskipun aku punya otak, tapi otakku otak udang. Katanya, otakku itu bercampur dengan taik.

Minggu, 18 Mei 2014

Cumi-Cumi, Si Penulis Mimpi




Aku si cumi-cumi yang punya banyak mimpi. Hampir di setiap waktuku slalu penuh dengan imajinasi. Gambaran masa depan yang begitu indah, angan membentang ke segala arah, begitu penuh dengan warna.
Dari dalam air aku hanya bisa bermimpi, suatu saat aku bisa meluncur ke udara, mengembara ke angkasa bersama bintang-bintang diatas sana. Aku ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa aku bisa. Aku berharap suatu saat mimpiku menjadi nyata.

Jumat, 16 Mei 2014

Jalan Mundur Si Undur-Undur

 Awalnya, si undur-undur malu dan kecewa karena ia berbeda dengan orang lainnya. Ia bersedih karena orang lain berkata "Undur-undur itu jalannya mundur ke belakang, pasti otaknya juga mundur, pantas pemikirannya slalu kuno, sudah jelas dia tidak akan pernah bisa mencapai tujuan hidupnya karena slalu tertinggal".