Tuesday, April 8, 2014

Kulit Lupa Kacangnya. Kacang Rindu Kulitnya




Ini kisah sepasang kekasih yang berjanji untuk selalu bersama, yaitu tentang si kacang dan si kulit. Di awal cerita, mereka selalu bersama, si kulit selalu melindungi si kacang, dan si kacang bahagia karena merasa bahwa si kulit bisa menjaga dan melindunginya.
Hingga pada suatu saat, si kulit dan si kacang mulai tua. Si kulit perlahan-lahan membuka kulitnya, si kacang terdiam, seolah ia mengerti si kulit akan membiarkannya pergi.

Si kacang kecewa, setelah waktu yang cukup lama dilalui bersama, genggaman tangan yang selalu menjaganya kini telah dilepaskan oleh si kulit. Si kacang hanya bisa terdiam dengan hati yang luka. Dan akhirnya si kacang berani angkat bicara “Kenapa kamu melepaskanku?”. Si kulit menjawab “Waktuku sudah selesai untuk menjagamu, seharusnya kamu senang karna aku sudah membiarkanmu bebas, jadi kau bisa bebas memilih untuk bersama yang lain!”. Itu kata terakhir yang diucapkan si kulit sebelum ia pergi ke tumpukan sampah.


Si kacang masih terdiam sebelum sempat menjawab si kulit. Ini adalah patah hati pertama yang sangat menyakitkan bagi si kacang. Sekarang ia masih bersedih sendirian, ia berusaha tegar menghadapi kenyataan hidup yang memang pahit, ia berusaha ceria, dan berusaha melupakan si kulit yang telah meninggalkannya. Ya, perlahan-lahan ia bisa melupakan si kulit, meskipun hatinya masih mengharapkan si kulit. Terdengar seseorang berkata pada si kacang “Hei kamu, kacang lupa kulitnya. Padahal si kulit rela dibuang ditempat sampah demi dirimu, tapi kau malah melupakan semua pengorbanannya!”

Mendengar kata itu, hati si kacang lebih sakit lagi. Sebenarnya kacang tidak melupakan si kulit, hanya saja si kacang kecewa dengan si kulit, seharusnya si kulit bisa menjaga si kacang agar selalu bersamanya. Tapi si kulit tidak peduli, si kulit membiarkan si kacang pergi dan tidak berusaha mempertahankan si kacang. Si kacang sedih karna dia semakin jauh dari si kulit. Si kacang takut dia ditelan jadi feses. Tapi si kulit masih tidak peduli, ia masih sibuk di tempat sampah bersama kulit-kulit yang lain.

*Terinspirasi Peribahasa:  Kacang Lupa Kulitnya

Nira Aer Enau
Singaradja, April 2014

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Terimakasih atas saran dan kritik anda.