Tuesday, August 6, 2013

Embun Bening dan Rumput


Aku adalah serumpun rumput liar yang selalu terinjak-injak, terkadang terlalu sulit untukku berusaha tetap berdiri tegak untuk melanjutkan hidup. Daunku terasa berat setiap kali kaki-kaki yang berkuasa berjalan diatasku, daunku mulai layu dan kering. Dan disaat aku mulai tak berdaya pada kehidupan yang selalu membuatku tergilas, kau datang padaku, kau bagaikan sebutir embun, dan kau memang sebutir embun. Embun bening sebening hatimu, yang selalu menyejukkanku, yang selalu menyegarkanku. Membasahi daunku yang mulai layu dan kering. Membasuh luka dalam goresan hatiku. 



Embun, kedatanganmu membuatku bisa bertahan hidup melawan rintangan dalam hidupku, tapi bahkan kau pasti tak pernah menyadarinya. bahwa kedatanganmu selalu membuatku merasa bersemangat, membuatku bahagia karna tetesan tetesan air jernihmu menghilangkan segala luka yang ada di hati ini. 

Ingatlah, wahai embunku. Aku selalu ingin berterimakasih kepadamu. Kau selalu menemaniku ketika kegelapan datang padaku, kemurnian airmu menyejukkan hitamku yang semakin pudar sampai matahari terbit meninggi. Setiap airmu yang kau berikan padaku, akan selalu meresap kedalam daun-daunku ini, hingga aku kembali tumbuh segar seperti tanpa beban. Seperti hatiku saat ini, hatiku menerima perasaanmu yang kau berikan padaku. Hingga aku bisa bertahan sampai saat ini karna cintamu. Dan selamanya perasaan ini akan aku kenang selalu, seperti butiran embun yang meresap dalam daun rerumputan. Terimakasih wahai embunku, siramilah terus aku ini, siramilah terus rumputmu ini. Temanilah terus hingga matahari bersinar di pagi hari. Kasihmu cemerlang sebening embun.

No comments:

Post a Comment

Pembaca yang baik selalu meninggalkan komentar. Terimakasih atas saran dan kritik anda.